PURA LUHUR PAKIYISAN
Written by Darmawan Mataram
Friday, 01 February 2008 07:41
Guratan pena suci Hyang Maha Pencipta melahirkan alam dengan nuansa indah penuh makna. Sudah selayaknya manusia bersyukur, betapa besar karunia Hyang Mahapencipta. Setidaknya itulah yang ada dibenak kita, saat berada di Pura Pakiyisan. Pura Luhur Pakiyisan, berada di tepi sungai Ho atau Yeh Ho, yang merupakan aliran Sungai suci dengan rentetan pelinggih suci termasuk parahyangan Luhur Pakiyisan. Mungkin belum banyak yang tabu keberadaan pura yang satu ini. Letaknya yang
agak masuk ke dalam, seolah menjadikan kahyangan jagat ini terlewatkan begitu saja Pura Luhur Pakiyisan, terletak sekitar 1 km dari ibu kota kecamatan Penebel, 13 km arah kota Kabupaten Tabanan, dan 34 km arah barat laut kota Denpasar. Pura yang menghadap ke utara ini dulunya merupakan sebuah munduk atau punden berundak, yang kini tertata rapidalam satu kerangka kesucian.
Hingga saat ini, belum ditemukanprasasti atau purana yang mengungkaptentang keberadaan pura, sehingga sejarahpura luhur Pakiyisan tidak diketahuidengan jelas .Dilihat dari struktur pelinggih-pelinggih sebelum adanya pemugaran, yaitu sebagian besar terdiri dari tahta batu atau punden berundak dengan bahan dasar berupa batu besar, maka diperkirakan pura Luhur Pakiyisan, telah ada sejak jaman megalithikum, sekitar abad ke-9
sampai abad ke 12. Berdirinya Pura luhur Pakiyisandiperkirakan sejaman dengan pura
luhur Batukaru beserta catur lawa-nya, sepertipura luhur besikalung, pura luhur Petali, pura luhur Tambawaras, dan pura luhur Muncak Sari. Pura luhur Pakiyisan sendiri merupakan pesucian atau Pakiyisan darikelima pura ini. Dugaan lain menyebutkan, pura luhur Pakiyisan berdiri pada jaman Sri Ugrasena yang memerintah pada tahun saka 837 hingga 864 atau tahun 915 hingga 942masehi.
Bentuk tapak atau site pura, memanjang dari utara ke selatan. Layaknya pura-pura di Bali, awal memasuki pura, kita akan melewati areal paling luar yang disebut dengan nista mandala.
Di jaba ini dihiasi sebuah bangunan pelengkap pura, yaitu bale gong. Lepas dari kanistan mandala, kita akan melewati sebuah candi bentar, dan sampai di mandala kedua, yang biasa disebut madyaning mandala. Di kiri Madya mandala, dilengkapi dua
buah bangunan pelengkap. Di sisi kiri berdiri sebuah pelinggih yang dibatasi tembok penyengker, disebut pelinggih ratu nyoman. Menilik utama mandala terlihat jelas keberadaan pelinggih-pelinggih yang sarat dengan makna kesucian. Di pelataran ini berdiri Pelinggih-pelinggih yang berada dalam satu dataran yang agak tinggi, dengan dihiasi patung dewa-dewi di sudut-sudutnya . Searah jarum jam, pelataran suci ini dihiasi beberapa buah pelinggih, diantaranya adalah pelinggih gangga, dan pelinggih pesimpangan tamblingan batukaru. Pelinggih gedong merupakan pelinggih utama pura luhur pakiyisan, dihiasi dua buah patung naga di kanan kirinya. Di sebelah gedong, berdiri pelinggih resi, bale pelik sari pesimpangan tanah lot pakendungan, pelinggih pengingkup sebuah balai pemayasan dan pewaregansuci.
Di belakang pelinggih utama terdapat sebuah pelataran yang dihiasi dua buahpatung naga. Pelataran ini merupakan tempat mata air yang merupakan air suci.
Disamping pelinggih utama, pura luhur Pakiyisan juga dilengkapi dengan tiga buah pelinggih penyangga. Pelinggih ini berada di luar pelataran pura, namun masih ada dalam wilayah pura. Tepat di depan pura, berdiri pelinggih sedahan sri sedana, yang berfungsi social ekonomis. Kemudian di sisi barat dan selatan berdiripelinggih ratu malen dan palinggih ratunyoman pengadangan,
sebagaipengamanan . Pujawali piodalan pura luhur pakiyisan,didasarkan pada sistim wawaran,pertemuan panca wara dengan sapta waradan wuku, yaitu pada hari saniscara kliwon wuku kuningan, atau tumpek kuningan. Piodalan di pura luhur pakiyisan, dibagimenjadi dua jenis, yaitu piodalan alit dan piodalan ageng, dilaksanakan secarabergantian, kecuali jatuh pada haripurnam dan tilem. Pangempon pura luhur pakiyisan adalah krama desa pakraman babahan dengan tiga banjar adatnya, yaitu banjar adat babahan kawan, babahan tengah dan babahan kanginan.Secara sekala niskala krama pangempon bertanggung jawab terhadap keberadaan pura, pemeliharaan kondisi fisik pura maupun. Sedangkan penyiwi pura adalah krama yang tidak memiliki tanggung jawab penuh terhadapan keberadaan pura,namun secara sekala niskala memiliki tanggung jawab moral dan historis terhadap keberadaan pura.
Dari struktur upakara clan upacarakeagamaannya, pura luhur pakiyisan mempunyai tiga fungsi utama. Selain sebagai " kahyangan jagat untukmemohon keselamatan dan kerahayuan,pura luhur pakiyisan juga berfungsi sebagai ulun suwi bagi subak yang berada di sekitar wilayah pura, seperti subak babahan dan subak ubung. Namun fungsi yang paling menonjol,yaitu tempat makiyis bhatara luhur Batukaru beserta Catur Lawa Ida. Menurut purana batukaru, ida bhatara sesuhunan Batukaru mesucian ke pura luhur tanah lot dan ke pura luhur Pakiyisan. Tujuannya untuk nyuciang jagat, dan nyegjegang mertha. Menurut sejarah, Ida Bhatara luhur Batukaru pernah mesucian ke pura luhur Pakiyisan sekitar tahun 1932, melalui jalan setapak yang melewati Desamangesta.
Dinaungi hutan alami dan dibatasi sungai suci, pura luhur pakiyisan merupakan tempat yang tepat memuja kebesaran Hyang Maha Pencipta.